Tuesday, 27 October 2015

Negeri Haha Hihi (Gus Mus)

Negeri Haha Hihi KH. Mustofa Bisri
Bukan karena banyaknya grup lawak, maka negeriku selalu kocak
Justru grup – grup lawak hanya mengganggu dan banyak yang bikin muak
Negriku lucu, dan para pemimpinnya suka mengocok perut

Banyak yang terus pamer kebodohan dengan keangkuhan yang menggelikan
Banyak yang terus pamer keberanian dengan kebodohan yang mengharukan
Banyak yang terus pamer kekerdilan dengan teriakan memilukan
Banyak yang terus pamer kepengecutan dengan lagak yang memuakkan

hahaha penegak keadilan 
jalannya miring
Penuntut keadilan kepalanya pusing
Hakim main mata dengan maling
Wakil rakyat baunya pesing hihihihi

kalian jual janji – janji untuk menebus kepentingan sendiri
kalian hafal pepatah produktif untuk mengelabui mereka yang tertindih
Pepatah petitih

hahaha Anjing menggonggong kafilah berlalu, sambil menggonggong kalian terus berlalu hahaha
Ada udang dibalik batu, udang kepalanya batu hahaha
Sekali dayung dua pulau terlampaui, sekali untung dua pulau terbeli hahaha

Gajah mati meninggalkan gading, harimau mati meninggalkan belang, kalian mati meninggalkan hutang hahaha
Hujan emas di negeri orang, hujan batu di negeri sendiri,
lebih baik yook hujan – hujanan caci maki.

Thursday, 15 October 2015

Desa mawa cara, negara mawa tata


Desa mawa cara, negara mawa tata

Artinya desa mempunyai adat sendiri, negara mempunyai hukum sendiri, atau setiap tempat memiliki adat kebiasaan masing-masing yang berbeda dengan tempat-tempat lainnya. Misalnya, cara mencari air antara orang gunung dengan orang di daratan rendah pasti berbeda. Orang di gunung harus mengambil air di sumber atau mata air yang agak jauh, sedangkan di daratan rendah cukup dengan membuat sumur di halaman rumah masing-masing.

Selain menegaskan bahwa setiap tempat memiliki adat kebiasaannya masing-masing, peribahasa ini juga mengingatkan kepada para pendatang di suatu tempat (yang datang dari daerah lain), agar menghormati adat yang telah berjalan di tempat barunya. Syukur-syukur jika orang tersebut sedikit demi sedikit mau menganut adat serta tata cara yang cocok dengan hatinya. Artinya, apabila ada bagian-bagian yang kurang disetujui tentu saja tidak perlu dijalankan. Hal yang penting, nilai-nilai yang tidak disetujui jangan dijelek-jelekkan, dilecehkan, apalagi bermaksud mengubahnya secara drastis. Apabila dilakukan, perbuatan seperti itu dapat menimbulkan kebencian orang banyak, dan jika sampai muncul kesalahpahaman yang sering ujung-ujungnya akan menimbulkan konflik yang tidak diinginkan.

Sastra, Jembatan Pendidikan Karakter di Sekolah


Sastra, Jembatan Pendidikan Karakter di Sekolah
Saat ini moral bangsa Indonesia sudah cukup memprihatinkan. Krisis moral dirasakan hampir disemua daerah di Indonesia. Peredaran narkoba, pencurian, perampokkan, hingga kasus korupsi yang dilakukan oleh anggota dewan. Dalam dunia pendidikan sendiri, banyak fenomena-fenomena yang menggambarkan kondisi moral bangsa yang semakin memprihatinkan. Tawuran antarpelajar, mencontek pekerjaan teman, dan kecurangan dalam ujian nasional merupakan salah satu dari sekian banyak krisis moral yang melanda bangsa ini.
Penyebab semua itu tidak hanya oleh krisis ekonomi, tetapi juga oleh krisis akhlak yang berakar dari kurangnya penanaman pendidikan karakter. Secara sederhana pendidikan dapat dimaknai sebagai usaha untuk membantu peserta didik mengembangkan seluruh potensinya baik hati, pikir, rasa, karsa, serta raga untuk menghadapi masa depan. Sedangkan pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai suatu upaya yang terencana untuk menjadikan peserta didik mengenal dan mempraktikkan nilai-nilai moral dan pengambilan keputusan dalam hubungannya dengan sesame manusia maupun hubungannya dengan Tuhannya.
Sejauh ini, pendidikan karakter yang direncanakan masih berupa penyuluhan dan pembelajaran berdasarkan pada pengembangan karakter. Dibutuhkan cara yang kreatif dan inovatif agar pendidikan karakter yang diimpikan tepat sasaran. Tidak hanya melalui pengajaran di dalam kelas, tetapi juga dengan sosialisasi nilai-nilai moral yang ada di masyarakat. Salah satunya melalui penggalian kearifan lokal dan budi luhur yang terkandung dalam karya sastra.
Pendidikan karakter melalui penggalian nilai-nilai luhur dan ajaran moral yang terkandung teks-teks sastra adalah cara kreatif yang efektif. Sebagai contoh beberapa karya penulis dalam negeri yang dapat dinikmati dan menjadikan pencerahan bagi pembaca antara lain Andrea Hirata dengan tetralogi Laskar Pelangi. A. Fuadi dengan  dwilogi Negeri Lima Menara.  Habiburrahman el Syrazi dengan Ayat-Ayat Cinta. Prie G.S dengan Ipung. Membaca karya-karya tersebut, kita akan dapat merasakan dahsyatnya kekuatan bahasa dalam mempengaruhi pembaca. Namun, saatinidi Indonesia, posisi karya sastra masih terbilang rendah. Sebagian besar masyarakat nyaris sebelah mata memandang karya-karya sastra Indonesia. Padahal, dengan kita membaca karya sastra kita dapat mengambil nilai-nilai yang terkandung di dalamnya.
Pengajaran sastra dapat dijadikan sebagai jembatan pendidikan karakter di sekolah. Apabila siswa tidak mau atau malas untuk belajar sastra, justru mengakibatkan siswa tersebut makin jauh dari nilai-nilai moral. Kita dapat melatih dan mengembangkan IQ, EQ, dan SQ siswa melalui kegiatan apresiasi sastra. Siswa dapat memahami dan mempraktikkan nilai-nilai moral baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan masyarakatnya melalui kegiatan membaca karya sastra.
Dengan demikian tinggal peran guru, khususnya guru mata pelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia dalam menggiring siswanya agar gemar membaca. Khususnya membaca karya sastra. Nilai-nilai moral yang terdapat di dalam karya sastra seperti taat kepada ajaran agama, toleransi, disiplin, tanggung jawab, kasih sayang, gotong royong, kesetiakawanan, saling menghormati, sopan-santun, kejujuran, dan sebagainya, banyak ditemukan dalam karya sastra. Bila karya sastra itu dibaca, dipahami maknanya, serta ditanamkan pada diri siswa, siswa akan menjunjung tinggi nilai-nilai moral.
Jika pendidikan karakter melalui sastra ini dilakukan secara sungguh-sungguh, bukan tidak mungkin kelak remaja sebagai generasi penerus bangsa ini akan memiliki kepribadian yang jauh lebih berkarakter serta dapat menjalani kehidupan sebagai manusia yang berpendidikan dan berkebudayaan. Bangsa Indonesia akan kembali dikenal sebagai bangsa timur yang identik dengan sifatnya yang ramah, bersahabat, tidak individualis, dan saling tolong menolong satu sama lain, tutur kata yang lembut dan sopan dalam berpakaian. Bangsa Indonesia juga akan kembali menjadi bangsa yang berketuhanan yang maha esa; bangsa yang menjunjung kemanusiaan yang adil dan beradab; bangsa yang mengedepankan persatuan dan kesatuan bangsa; bangsa yang demokratis dan menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia; serta bangsa yang mengedepankan keadilan dan kesejahteraan.

Wednesday, 14 October 2015

Berbudi bawa laksana


Berbudi bawa laksana

Berbudi bawa laksana artinya berwatak konsekuen baik terhadap kata maupun tindakannya. Jika dikaitkan dengan ungkapan dalam berbahasa Indonesia, maknanya sama dengan satunya kata dengan perbuatan. Biasanya, ungkapan ini ditujukan kepada para pemimpin agar konsisten dalam bersikap. Semua yang dikatakan dan dijanjikan akan ditepati, tidak diubah, dan tidak dikurangi.
Karakter berbudi bawa laksana merupakan salah satu karakter terpuji. Pemimpin yang berhasil mewujudkan sikap demikian, akan menjadikan rakyat tenang, tenteram, dan puas. Hal ini perkataannya selalu dijaga, diperhitungkan dengan cermat dapatkah terlaksana atau tidak, sejalan odengan keinginan rakyat ataukah sebaliknya sehingga rakyat mengetahui bermacam duduk perkara yang melatarbelakangi kebijaksanaannya.

Wednesday, 7 October 2015

Alon-alon waton kelakon

Alon-alon waton kelakon
Artinya perlahan-lahan asal tercapai. Gara-gara peribahasa ini muncul anggapan bahwa orang jawa itu sulit maju karena hidupnya selalu pelan-pelan atau santai. Ada anggapan jika orang Jawa mengerjakan segala sesuatu senantiasa pelan, tidak pernah cepat dan cekatan, tidak sesegera mungkin berlari mengejar apa yang menjadi tujuan semula.
Pendapat seperti itu jelas keliru sebab makna peribahasa ini tidaklah demikian. "Alon-alon waton kelakon" adalah nasehat jangan suka terburu-buru, jangan berbuat ceroboh. Setiap harus diperhitungkan dengan cermat agar dapat dilaksanakan dengan lancar. Artinya, setiap upaya untuk meraih apapun sangat memerlukan kewaspadaan, kepekaan dalam penyesuaian diri, memperhatikan kanan kiri, dan sebagainya. Apa gunanya berhasil meraih tujuan, bila karenanya hidup kita malah jadi penuh malapetaka. Maka, mengejar cita-cita memang bukan hal yang buruk, tetapi jangan lupa, orang harus benar-benar menjaga keselamatannya.
Ketika dikaji dengan cermat, peribahasa ini terkait dengan peribahasa lain. Misalnya aja nggege mangsa, kebat kliwat, ngangsa marakake brabala, dan sabar subur. Artinya apa yang dicita-citakan memang harus dikejar hingga tercapai. Akan tetapi jangan terburu-buru dan harus sabar (karena membutuhkan proses). Hal yang penting adalah berhasil. Jangan karena terburu ingin mencapai tujuan, lantas mengejarnya dengan serampangan dan membabi buta. Jika kita lupa asalmulanya, bahwa setiap tindakan bisa memunculkan masalah baru yang dapat merambat langkah.

Becik ketitik, ala ketara




    Artinya siapa berbuat baik akan terbukti (diketahui, diakui) dan dihargai oleh orang lain, sedangkan yang berbuat buruk akan tampak pula dengan sendirinya. Peribahasa ini adalah anjuran agar siapapun tidak takut berbuat baik. Meskipun ada orang lain yang tidak suka lantas kebaikan tersebut ditutup rapat-rapat, pada saatnya pasti akan muncul pula dan dihargai. Demikian juga sebaliknya, perbuatan tercela dan sengaja disimpan dengan sungguh-sungguh, akhirnya akan terbongkar juga pada saatnya.
     Peribahasa ini mengingatkan bahwa semua perbuatan, baik maupun buruk, akan memperoleh balasan masing-masing dengan setimpal. Artinya jika orang yang diberi kebaikan (ditolong) tidak (belum) bisa membalas, kita tidak perlu mengeluh atau merasa kecewa. Sebab, balasan tersebut dapat datang dari mana saja. Balasan tersebut bisa datang dari orang lain, atau bisa pula balasan tidak menimpa kita, tetapi menimpa istri atau anak cucu kita.
     Siapa pun yang mempunyai niat jelek sebaiknya diurungkan. Artinya, jangan gampang melakukan perbuatan buruk (tercela), baik kepada saudara sendiri, maupun kepada orang lain. Sebab, perbuatan buruk tidak akan menghasilkan apa pun, dan pada masanya akan terbongkar juga. Padahal yang menjadi pemicu terbongkarnya perbuatan buruk tadi terkadang adalah sebab-sebab yang tidak masuk akal. Entah karena teledor dalam menutupi aib dan dosa, entah karena jalannya hukum alam dan kehidupan yang membongkar semuanya.

Thursday, 1 October 2015

Menentukan Kalimat Utama atau Ide Pokok Paragraf


Menentukan Kalimat Utama dan Ide Pokok Paragraf


1. Contoh paragraf yang kalimat utamanya di awal (deduktif )
Ada banyak cara yang orang lakukan untuk mengisi hari pertamanya di tahun baru. Ada yang menyambut fajar pertama di puncak gunung. Ada yang biasanya bersenang-senang dengan konvoi kendaraan bermotor, atau merayakannya dengan pesta kembang api, atau mungkin merayakannya dengan pasangan masing-masing.

2. Contoh paragraf yang kalimat utamanya di akhir (induktif)
Ada orang yang menyambut fajar pertama di puncak gunung. Ada yang memilih bersenang-senang dengan konvoi kendaraan bermotor. Akan tetapi, ada juga yang memilih menyambut tahun baru dengan pesta kembang api, atau mungkin merayakannya dengan pasangan masing-masing. Ya, itulah berbagai cara yang dilakukan orang untuk mengisi hari pertamanya di tahun baru.

3. Contoh paragraf yang kalimat utamanya di awal dan di akhir (campuran)
Ada banyak cara yang orang lakukan untuk mengisi hari pertamanya di tahun baru. Ada yang menyambut fajar pertama di puncak gunung, bersenang-senang dengan konvoi kendaraan bermotor, atau merayakannya dengan pesta kembang api, atau mungkin merayakannya dengan pasangan masing-masing. Ya, itulah berbagai cara yang dilakukan orang untuk menyambut tahun baru.
4. Contoh paragraf yang kalimat utamanya di seluruh isi paragraf (paragraf narasi dan deskripsi)
Salah satu kerinduan ibu saya adalah melihat kami, anak-anaknya, dapat menyelesaikan pendidikan dan mendapat pekerjaan sesuai dengan latar belakang pendidikan kami masing-masing. Di atas semua kerinduan itu, ia menanamkan kepada kami sikap yang takut akan Tuhan dan hati yang mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Ibu selalu mengajarkan. "Kalau bukan Tuhan yang menyertai dan memberkati usaha yang kita lakukan, maka semua usaha dan kekuatan yang kita kerahkan akan sia-sia. Karena itu, berdoalah untuk setiap hal yang sudah kita rencanakan dan mintalah tuntunan serta campur tangan-Nya. (paragraf narasi)
            Di dinding sebelah kanan tergantung sebuah rak buku yang seluruhnya juga dilapisi dengan kertas yang sama dengan alas meja. Rak itu penuh buku, teratur rapi, dan di atas rak ada beberapa map. Di bawah rak terpampang sebuah lukisan wayang yang besar di atas dasar kain warna merah, dilukis dengan tinta warna emas. Di bawahnya terdapat sebuah dipan, sama panjangnya dengan lukisan itu. Dipan tersebut ditutup bed cover merah dengan motif primitif tenunan Bali. (paragraf deskripsi).